PERBANDINGAN PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI ANTARA METODE KONVENSIONAL DAN METODE ABC (ACTIVITY BASED COSTING) STUDI KASUS PADA INDUSTRI KECIL KNALPOT JOYO RACING MUFFLER

Alfarizi, Renaldy (2017) PERBANDINGAN PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI ANTARA METODE KONVENSIONAL DAN METODE ABC (ACTIVITY BASED COSTING) STUDI KASUS PADA INDUSTRI KECIL KNALPOT JOYO RACING MUFFLER. Diploma thesis, Politeknik STMI Jakarta.

[img] Text
1713046 - Renaldy Alfarizi.pdf

Download (2MB)

Abstract

Joyo Racing Muffler atau biasa disebut JRM merupakan usaha Industri Kecil Menengah komponen otomotif yang memproduksi sebuah knalpot racing khusus untuk motor balap. Usaha ini mulai dirintis sejak tahun 2002 dengan awal mula membuka sebuah bengkel knalpot hingga tahun 2008 membuat knalpot dengan merek sendiri dengan nama “JOYO” dan pada tahun 2012 melakukan perubahan merek dengan nama “JRM” singkatan dari Joyo Racing Muffler. Saat ini JRM telah memproduksi sebanyak 23 jenis knalpot dari 4 merek motor yaitu : Honda, Suzuki, Yamaha dan Kawasaki. Salah satu masalah yang dihadapi oleh JRM yaitu dalam perhitungan harga pokok produksi dan penetapan harga jual per unit knalpot yang dilakukan oleh pemilik usaha tidak melakukan perhitungan secara akurat. Sehingga penetapan harga jual yang berbeda pada setiap knalpot dilakukan dengan cara kirakira mengikuti harga pasar, untuk itu besarnya laba kotor yang diperoleh dari setiap unit knalpot belum diketahui dengan pasti. Permasalahan terkait dengan perhitungan biaya produksi yang kurang akurat, hal ini disebabkan karena pemilik usaha tidak melakukan pencatatan terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses produksi sehingga berdampak terhadap penentuan harga pokok dan harga jual produk. Dengan demikian untuk menentukan perhitungan harga pokok produksi secara akurat dibutuhkan metode perhitungan harga produksi yaitu dengan menggunakan metode konvensional dan metode activity based costing (ABC). Perhitungan harga pokok produksi menggunakan sampel sebanyak dua unit, dimana kedua unit tersebut mewakili jenis produksi berdasarkan konsumsi bahan yang digunakan. Penetapan harga jual knalpot Ninja J2 Stainless dan knalpot Satria FU 200 CC adalah sama yaitu sebesar Rp. 1.500.000. Dari hasil perhitungan berdasarkan metode konvensional diperoleh harga pokok produksi untuk knalpot Ninja J2 Stainless Rp 598.512 memperoleh laba kotor sebesar 151% dan harga pokok produksi knalpot Satria FU 200 CC Stainless Rp 535.329 memperoleh laba kotor sebesar 180%. Jika dibandingkan dengan metode ABC harga pokok produksi knalpot Ninja J2 Stainless lebih kecil yaitu Rp 507.564 memperoleh laba kotor lebih besar yaitu 196% dan harga pokok produksi untuk knalpot Satria FU 200 CC Stainless kecil yaitu Rp 451.902 sehingga laba kotor yang diperoleh lebih besar hingga mencapai 232%. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa penetapan harga jual per unit knalpot yang dilakukan oleh pemilik usaha tanpa menghitung besarnya harga pokok produksi memperoleh laba kotor dari per unit knalpot cukup besar.

Item Type: Thesis (Diploma)
Uncontrolled Keywords: Harga Pokok Produksi, Metode Konvensional, Metode Activity Based Costing (ABC), dan Harga Jual
Subjects: Administrasi Bisnis Otomotif
Depositing User: Admin Perpustakaan
Date Deposited: 13 May 2026 02:48
Last Modified: 13 May 2026 02:48
URI: http://repository.stmi.ac.id/id/eprint/2478

Actions (login required)

View Item View Item